Monday, November 23, 2015

Journey To Jogja - Central Java Part 4

Masih bersambung....wew sampai part 4 ternyata.

Masih bercerita mengenai perjalanan kami ke Jogja, setelah kami mengunjungi Candi Borobudur kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Parang Tritis. 

Berbagai cerita mistis menyelimuti pantai di wilayah Selatan Jogja ini terutama karena adanya legenda mengenai Ratu Pantai Selatan atau sering dikenal dengan Nyi Roro Kidul. Alkisah disebutkan bahwa sang Ratu akan membawa setiap orang yang memakai baju berwarna hijau yang merupakan kegemaran sang Ratu dan sudah banyak cerita mengenai orang yang hilang di kawasan ini karena memakai baju berwarna hijau. Untung saat itu kami tidak ada yang menggunakan baju berwarna hijau.

Sampai di kawasan pantai, kami langsung disergap oleh udara panas khas pantai. Dari tempat parkir pantai ini terlihat biasa saja dan tidak menarik sama sekali, hanya hamparan laut biasa. Seketika saya merasa kecewa, yah ternyata cuma begini saja.... bagusan Ancol atau wilayah Anyer. 

Karena saat kami sampai sudah lewat makan siang, maka kami segera singgah ke salah satu rumah makan yang ada di dekat tempat parkir. Kami memilih sebuah rumah makan yang memajang harga makanannya di sebuah papan besar, sehingga kami tidak khawatir akan harga makanan yang tidak wajar layaknya di tempat-tempat wisata. Sekali lagi kami salut dengan wisata daerah Jogja ini, semua harga makanannya masih dalam taraf normal bahkan sedikit murah menurut saya. 

Saya pesan gado-gado, ada yang pesan nasi goreng harganya rata-rata Rp.10.000 sampai Rp.15.000 per porsi, porsinya pas menurut saya, rasanya hmmm standar aja. Satu hal yang membuat kami sedikit geli dan jengkel adalah kami melihat bahwa es jeruk disini sangat murah hanya Rp.3.000/gelas sehingga semua rata-rata pesan minum es jeruk, namun dari beberapa gelas yang datang warnanya bisa berbeda-beda, ada yang kuning oranye warna khas es jeruk ada yang warna kuning pucat, dan ada yang warnanya PUTIH BENING !! wkwkwk hanya didalamnya ada biji-biji jeruk ... terang saja kami yang mendapat gelas dengan es jeruk putih bening ini protes, mbok yang bener aja masa es jeruknya begini (sambil menunjukkan gelas kami), eh si mbok nya bilang ga tahu ya itu udah diperesin  kok... (waduh mbok situ aja yang bikin bingung apalagi kami yang minum ... wkwkwk).

Selesai makan ada bapak penjaja kacamata hitam yang menawarkan dagangannya pada kami, yah untuk sekedar menambah asesoris jeprat-jepret kami membeli beberapa dengan harga yang cukup murah.

Akhirnya kami bersama turun mendekati pantai, begitu sampai barulah saya mengerti daya pikat pantai Parang Tritis ini. Ternyata pemandangan dari pantai dengan tempat parkir sangat berbeda jauh, dimulai dengan kaki kami menjejak di pasir pantai yang ternyata ... SANGAT HALUS.... saya langsung suka, enak banget injek pasir disini. Pasukan anak-anak di keluarga kami langsung bersuka cita dengan dunia mereka untuk bermain-main pasir membentuk berbagai bentuk bangunan sesuai imajinasi mereka. Padahal tadinya mereka berjanji untuk tidak berbasah-basahan, namun memang lembutnya pantai Parang Tritis menimbulkan daya pikat yang membuat mereka segera lupa dengan janji mereka. Ada beberapa delman/andong yang menawarkan jasa untuk sekedar foto atau perjalanan menyusuri Pantai Parang Tritis ini.

Ini suasana Pantai Parang Tritis dengan bukit-bukit yang mengelilingi di samping kiri pantai

Akhirnya lama-lama kita semua terbawa suasana untuk menikmati Pantai Parang Tritis ini. Saya pun juga asyik dengan kegiatan saya jeprat-jepret sana sini, mengabadikan moment seru keluarga kami menikmati suasana pantai dengan deburan ombak yang cukup kencang.





Akhirnya hari menjelang sore, matahari mulai condong ke arah Barat menampilkan pantulan di air pantai yang menimbulkan kesan eksotis dan indah.



Puas juga rasanya melepas pandangan menikmati hamparan pantai yang terbentang luas, menggantikan pandangan yang terkurung gedung-gedung setiap hari di Jakarta. Hembusan angin pantai yang semilir dan deburan ombak yang silih berganti juga akhirnya membuat perasaan kecewa saat pertama datang terganti menjadi perasaan teduh dan relaks menikmati suasana pantai Parang Tritis yang eksotis ini.

Tempat Parkir Kendaraan Di Pantai Parang Tritis

Keluar dari kawasan Pantai Parang Tritis , Mr.Driver mengarahkan elf yang kami sewa menuju kota Jogja. Tujuan kami mencari penginapan yang dekat dengan Jalan Malioboro yang sangat terkenal di kawasan Jogja ini. 

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 saat kami tiba di kawasan Malioboro, putar sana putar sini akhirnya kami sepakat untuk menginap di Losmen Nuri. Sebuah Losmen yang katanya biasa dipakai oleh backpacker. Harga 1 kamarnya cukup murah hanya Rp.125.000/malam tapi kalau diisi lebih dari 2 orang dikenakan harga Rp.150.000/malam. Tapi karena kami ambil lebih dari 2 kamar akhirnya kami negosiasi dan tetap dikenakan harga Rp.125.000/malam.

Mengenai losmen ini fasilitasnya cukup standar, hanya tersedia 1 bed besar (atau 2 bed single), 1 buah lemari, dan kipas angin yang terpasang di langit-langit kamar. Setiap kamar tersedia kamar mandi, dan untuk kebersihannya menurut saya cukup bersih baik kamarnya maupun kamar mandinya. Kipas anginnya cukuplah membantu membuat udara di kamar terasa tidak panas dan pengap. Tersedia TV di ruang tamunya yang bisa ditonton berbarengan. Namun sabun yang disediakan di kamar mandinya adalah sabun bekas, mungkin bekas penyewa sebelumnya yang tentu saja tidak kami gunakan. Untung di sebelah Losmen Nuri ada sebuah warung yang cukup lengkap untuk membeli kebutuhan sehari-hari baik odol, sabun maupun minuman ringan. Yah untuk harga yang ditawarkan saya tidak bisa mengharap lebih lagi, yang penting lokasinya dekat dengan Malioboro karena rencananya malam ini kami ingin jalan-jalan di sepanjang jalan yang sangat terkenal ini. Ada apa sih di Malioboro ? Sampai segitu terkenalnya .....

Setelah membersihkan diri jam 20.30 WIB kami semua keluar dari Losmen Nuri dan mulai menyusuri Jalan Malioboro. Banyak sekali orang baik turis asing maupun turis manca negara yang berjalan bersama kami , di dekat Losmen Nuri tersedia sebuah Cafe yang padat dipenuhi turis-turis asing dengan berbagai minuman ada di meja-meja mereka. Mereka tampak begitu menikmati suasana malam di Jogja ini. Akhirnya saya dan keluarga sampai di Jalan Malioboro, beberapa saat berjalan saya langsung berpikir dalam hati ... apa ini? Kok saya serasa lagi ada di daerah Jatinegara ya? Atau Pasar Baru? Semuanya hanya ada toko-toko , pedagang kaki lima dan pengamen-pengamen yang lalu lalang di tengah orang-orang yang sedang melihat-lihat barang-barang.

Apa istimewanya tempat ini? ohhh mungkin tempat-tempat makan lesehan di seberang jalan itu kali harap saya... sambil berjalan saya sempat mengabadikan suasana Jalan Malioboro malam itu.








Sampai di seberang kembali kami bingung memilih karena begitu banyaknya tempat makan lesehan di sini. Akhirnya kamipun memilih sebuah tempat dan kami mulai pesan makanan, dan beberapa saat makanan kami dihidangkan tiba-tiba - DANG ! Mati lampu !, astaga... semua tempat lesehan mati lampu sedangkan toko-toko di seberang jalan tetap terang benderang. Terpaksalah kami makan gelap-gelapan,akibatnya mood saya langsung hilang belum lagi pengamen-pengamen yang datang silih berganti menyanyikan lagu-lagu dengan suara yang pas-pasan dan ga mau tahu kalau kita bilang tadi udah, kalau belum dikasih ga pergi-pergi. Selesai sudah mood saya untuk menyusuri jalan Malioboro, menurut saya sama saja dengan jalan di Jatinegara ataupun Mangga Dua. Beberapa keluarga saya tetap melanjutkan perjalanan sampai pasar Beringharjo. Tapi saya langsung balik ke Losmen Nuri karena sudah cukup lelah dan mood sudah hilang.

Sampai di Losmen ga pake lama, saya langsung terlelap... dan berakhirlah perjalanan kami di Jogja besok pagi kami harus kembali ke Jakarta.

Keesokan paginya setelah membereskan semua bawaan kami maka perjalanan panjang kembali ke Jakarta dimulai. Ada satu hal yang perlu saya sampaikan disini saat kami sampai kembali dekat Semarang kami makan siang di sebuah Rumah Makan. Saat kami sampai ternyata itu rumah Makan khusus untuk persinggahan Bus Handoyo, dan waktu kami memesan makanan, ternyata menu yang ada sudah banyak yang habis dan sepertinya hanya sisa dari menu untuk penumpang Bus Handoyo. Karena kami sudah terlanjur masuk Rumah Makan ini, maka kami tetap memesan makanan tersebut. Tiba saat hitungan, maka kami kaget ternyata harganya sangat mahal ! Waduh di Jogja kami selalu menemukan harga yang wajar, tapi ini harganya sangat aneh menurut saya. Karena tidak ingin berdebat kami melanjutkan perjalanan, di dalam mobil saya penasaran dan saya periksa harga-harga yang tertera dalam struk yang diberikan. Benar saja ! Banyak harga yang tidak wajar disitu, bayangkan sepotong ayam goreng paha atas dihargai Rp.20.000/potong, Lalu sepotong ayam panggang dada dihargai Rp.28.000/potong... Astaga ! Itu sih harga 1 ekor mbak, apalagi ini menu sisa bukan menu yang baru matang atau ada keistimewaannya, melainkan hanya menu untuk penumpang Bus Handoyo. Benar-benar NOT RECOMMENDED ini Rumah Makan !

Demikian kisah perjalanan saya ke Jogja, berbagai pengalaman saya alami baik yang menyenangkan, baik yang membuat geli, maupun menjengkelkan tapi itu semua merangkai suatu pengalaman yang berkesan dalam bagi saya. 



No comments:

Post a Comment