Monday, November 23, 2015

Journey To Jogja - Central Java Part 4

Masih bersambung....wew sampai part 4 ternyata.

Masih bercerita mengenai perjalanan kami ke Jogja, setelah kami mengunjungi Candi Borobudur kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Parang Tritis. 

Berbagai cerita mistis menyelimuti pantai di wilayah Selatan Jogja ini terutama karena adanya legenda mengenai Ratu Pantai Selatan atau sering dikenal dengan Nyi Roro Kidul. Alkisah disebutkan bahwa sang Ratu akan membawa setiap orang yang memakai baju berwarna hijau yang merupakan kegemaran sang Ratu dan sudah banyak cerita mengenai orang yang hilang di kawasan ini karena memakai baju berwarna hijau. Untung saat itu kami tidak ada yang menggunakan baju berwarna hijau.

Sampai di kawasan pantai, kami langsung disergap oleh udara panas khas pantai. Dari tempat parkir pantai ini terlihat biasa saja dan tidak menarik sama sekali, hanya hamparan laut biasa. Seketika saya merasa kecewa, yah ternyata cuma begini saja.... bagusan Ancol atau wilayah Anyer. 

Karena saat kami sampai sudah lewat makan siang, maka kami segera singgah ke salah satu rumah makan yang ada di dekat tempat parkir. Kami memilih sebuah rumah makan yang memajang harga makanannya di sebuah papan besar, sehingga kami tidak khawatir akan harga makanan yang tidak wajar layaknya di tempat-tempat wisata. Sekali lagi kami salut dengan wisata daerah Jogja ini, semua harga makanannya masih dalam taraf normal bahkan sedikit murah menurut saya. 

Saya pesan gado-gado, ada yang pesan nasi goreng harganya rata-rata Rp.10.000 sampai Rp.15.000 per porsi, porsinya pas menurut saya, rasanya hmmm standar aja. Satu hal yang membuat kami sedikit geli dan jengkel adalah kami melihat bahwa es jeruk disini sangat murah hanya Rp.3.000/gelas sehingga semua rata-rata pesan minum es jeruk, namun dari beberapa gelas yang datang warnanya bisa berbeda-beda, ada yang kuning oranye warna khas es jeruk ada yang warna kuning pucat, dan ada yang warnanya PUTIH BENING !! wkwkwk hanya didalamnya ada biji-biji jeruk ... terang saja kami yang mendapat gelas dengan es jeruk putih bening ini protes, mbok yang bener aja masa es jeruknya begini (sambil menunjukkan gelas kami), eh si mbok nya bilang ga tahu ya itu udah diperesin  kok... (waduh mbok situ aja yang bikin bingung apalagi kami yang minum ... wkwkwk).

Selesai makan ada bapak penjaja kacamata hitam yang menawarkan dagangannya pada kami, yah untuk sekedar menambah asesoris jeprat-jepret kami membeli beberapa dengan harga yang cukup murah.

Akhirnya kami bersama turun mendekati pantai, begitu sampai barulah saya mengerti daya pikat pantai Parang Tritis ini. Ternyata pemandangan dari pantai dengan tempat parkir sangat berbeda jauh, dimulai dengan kaki kami menjejak di pasir pantai yang ternyata ... SANGAT HALUS.... saya langsung suka, enak banget injek pasir disini. Pasukan anak-anak di keluarga kami langsung bersuka cita dengan dunia mereka untuk bermain-main pasir membentuk berbagai bentuk bangunan sesuai imajinasi mereka. Padahal tadinya mereka berjanji untuk tidak berbasah-basahan, namun memang lembutnya pantai Parang Tritis menimbulkan daya pikat yang membuat mereka segera lupa dengan janji mereka. Ada beberapa delman/andong yang menawarkan jasa untuk sekedar foto atau perjalanan menyusuri Pantai Parang Tritis ini.

Ini suasana Pantai Parang Tritis dengan bukit-bukit yang mengelilingi di samping kiri pantai

Akhirnya lama-lama kita semua terbawa suasana untuk menikmati Pantai Parang Tritis ini. Saya pun juga asyik dengan kegiatan saya jeprat-jepret sana sini, mengabadikan moment seru keluarga kami menikmati suasana pantai dengan deburan ombak yang cukup kencang.





Akhirnya hari menjelang sore, matahari mulai condong ke arah Barat menampilkan pantulan di air pantai yang menimbulkan kesan eksotis dan indah.



Puas juga rasanya melepas pandangan menikmati hamparan pantai yang terbentang luas, menggantikan pandangan yang terkurung gedung-gedung setiap hari di Jakarta. Hembusan angin pantai yang semilir dan deburan ombak yang silih berganti juga akhirnya membuat perasaan kecewa saat pertama datang terganti menjadi perasaan teduh dan relaks menikmati suasana pantai Parang Tritis yang eksotis ini.

Tempat Parkir Kendaraan Di Pantai Parang Tritis

Keluar dari kawasan Pantai Parang Tritis , Mr.Driver mengarahkan elf yang kami sewa menuju kota Jogja. Tujuan kami mencari penginapan yang dekat dengan Jalan Malioboro yang sangat terkenal di kawasan Jogja ini. 

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 saat kami tiba di kawasan Malioboro, putar sana putar sini akhirnya kami sepakat untuk menginap di Losmen Nuri. Sebuah Losmen yang katanya biasa dipakai oleh backpacker. Harga 1 kamarnya cukup murah hanya Rp.125.000/malam tapi kalau diisi lebih dari 2 orang dikenakan harga Rp.150.000/malam. Tapi karena kami ambil lebih dari 2 kamar akhirnya kami negosiasi dan tetap dikenakan harga Rp.125.000/malam.

Mengenai losmen ini fasilitasnya cukup standar, hanya tersedia 1 bed besar (atau 2 bed single), 1 buah lemari, dan kipas angin yang terpasang di langit-langit kamar. Setiap kamar tersedia kamar mandi, dan untuk kebersihannya menurut saya cukup bersih baik kamarnya maupun kamar mandinya. Kipas anginnya cukuplah membantu membuat udara di kamar terasa tidak panas dan pengap. Tersedia TV di ruang tamunya yang bisa ditonton berbarengan. Namun sabun yang disediakan di kamar mandinya adalah sabun bekas, mungkin bekas penyewa sebelumnya yang tentu saja tidak kami gunakan. Untung di sebelah Losmen Nuri ada sebuah warung yang cukup lengkap untuk membeli kebutuhan sehari-hari baik odol, sabun maupun minuman ringan. Yah untuk harga yang ditawarkan saya tidak bisa mengharap lebih lagi, yang penting lokasinya dekat dengan Malioboro karena rencananya malam ini kami ingin jalan-jalan di sepanjang jalan yang sangat terkenal ini. Ada apa sih di Malioboro ? Sampai segitu terkenalnya .....

Setelah membersihkan diri jam 20.30 WIB kami semua keluar dari Losmen Nuri dan mulai menyusuri Jalan Malioboro. Banyak sekali orang baik turis asing maupun turis manca negara yang berjalan bersama kami , di dekat Losmen Nuri tersedia sebuah Cafe yang padat dipenuhi turis-turis asing dengan berbagai minuman ada di meja-meja mereka. Mereka tampak begitu menikmati suasana malam di Jogja ini. Akhirnya saya dan keluarga sampai di Jalan Malioboro, beberapa saat berjalan saya langsung berpikir dalam hati ... apa ini? Kok saya serasa lagi ada di daerah Jatinegara ya? Atau Pasar Baru? Semuanya hanya ada toko-toko , pedagang kaki lima dan pengamen-pengamen yang lalu lalang di tengah orang-orang yang sedang melihat-lihat barang-barang.

Apa istimewanya tempat ini? ohhh mungkin tempat-tempat makan lesehan di seberang jalan itu kali harap saya... sambil berjalan saya sempat mengabadikan suasana Jalan Malioboro malam itu.








Sampai di seberang kembali kami bingung memilih karena begitu banyaknya tempat makan lesehan di sini. Akhirnya kamipun memilih sebuah tempat dan kami mulai pesan makanan, dan beberapa saat makanan kami dihidangkan tiba-tiba - DANG ! Mati lampu !, astaga... semua tempat lesehan mati lampu sedangkan toko-toko di seberang jalan tetap terang benderang. Terpaksalah kami makan gelap-gelapan,akibatnya mood saya langsung hilang belum lagi pengamen-pengamen yang datang silih berganti menyanyikan lagu-lagu dengan suara yang pas-pasan dan ga mau tahu kalau kita bilang tadi udah, kalau belum dikasih ga pergi-pergi. Selesai sudah mood saya untuk menyusuri jalan Malioboro, menurut saya sama saja dengan jalan di Jatinegara ataupun Mangga Dua. Beberapa keluarga saya tetap melanjutkan perjalanan sampai pasar Beringharjo. Tapi saya langsung balik ke Losmen Nuri karena sudah cukup lelah dan mood sudah hilang.

Sampai di Losmen ga pake lama, saya langsung terlelap... dan berakhirlah perjalanan kami di Jogja besok pagi kami harus kembali ke Jakarta.

Keesokan paginya setelah membereskan semua bawaan kami maka perjalanan panjang kembali ke Jakarta dimulai. Ada satu hal yang perlu saya sampaikan disini saat kami sampai kembali dekat Semarang kami makan siang di sebuah Rumah Makan. Saat kami sampai ternyata itu rumah Makan khusus untuk persinggahan Bus Handoyo, dan waktu kami memesan makanan, ternyata menu yang ada sudah banyak yang habis dan sepertinya hanya sisa dari menu untuk penumpang Bus Handoyo. Karena kami sudah terlanjur masuk Rumah Makan ini, maka kami tetap memesan makanan tersebut. Tiba saat hitungan, maka kami kaget ternyata harganya sangat mahal ! Waduh di Jogja kami selalu menemukan harga yang wajar, tapi ini harganya sangat aneh menurut saya. Karena tidak ingin berdebat kami melanjutkan perjalanan, di dalam mobil saya penasaran dan saya periksa harga-harga yang tertera dalam struk yang diberikan. Benar saja ! Banyak harga yang tidak wajar disitu, bayangkan sepotong ayam goreng paha atas dihargai Rp.20.000/potong, Lalu sepotong ayam panggang dada dihargai Rp.28.000/potong... Astaga ! Itu sih harga 1 ekor mbak, apalagi ini menu sisa bukan menu yang baru matang atau ada keistimewaannya, melainkan hanya menu untuk penumpang Bus Handoyo. Benar-benar NOT RECOMMENDED ini Rumah Makan !

Demikian kisah perjalanan saya ke Jogja, berbagai pengalaman saya alami baik yang menyenangkan, baik yang membuat geli, maupun menjengkelkan tapi itu semua merangkai suatu pengalaman yang berkesan dalam bagi saya. 



Sunday, November 22, 2015

Journey To Jogja - Central Java Part 3

Hari ketiga ....
Dibuka dengan persiapan untuk berangkat meninggalkan Hotel Natalia menuju Jogja. Pagi-pagi kami sudah sibuk berkemas merapikan semua bawaan, dan jam 7 pagi kami sudah siap meninggalkan hotel Natalia.

Beberapa kerabat bertanya apakah kami akan kembali ke Jakarta atau ke tempat lain, kami bilang bahwa kami akan ke Jogja dengan tujuan utama Borobudur. Seorang kerabat bilang ngapain ke Borobudur, ga ada apa-apa, panasnya ampun-ampun dan bosen. Dan pesan mereka bawa air yang banyak :) . Tapi hal tersebut tidak menyurutkan niat kami untuk mengunjungi salah satu situs purba yang membuat Indonesia terkenal di manca negara ini. Dengan tekad dan semangat 45 kami tetap bersemangat untuk menuju Borobudur.

Setelah berkemas beberapa saat akhirnya Mr. Driver sudah ready dengan Elf kesayangannya, dan perjalanan kami pun berlanjut kembali.

Thanks untuk semua kerabat di Semarang, see you next time....

Perjalanan Semarang ke Jogja memakan waktu +/- 2 jam, dengan sepanjang perjalanan seringkali dihiasi oleh pepohonan yang cukup rimbun , mungkin pohon jati kali ya...
Akhirnya setelah perjalanan yang menurut kami cukup membosankan, kami tiba di situs Candi Borobudur. Tapi karena perut kami sudah meminta segera diisi, maka kami tidak langsung masuk tapi mencari tempat makan disekitar candi Borobudur.

Berhubung hari masih pagi belum banyak Rumah Makan yang buka, akhirnya kami singgah disebuah Rumah Makan Padang yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk Candi Borobudur, yaitu Rumah Makan Padang Murah Meriah. Nyam...mantap masakannya cocok dengan selera kami, pedas tapi masih ada manis-manisnya...(kaya iklan di TV... hehe) dan harganya pun masih cukup wajar tidak seperti kalau kita datang disebuah tempat wisata biasanya harganya adalah harga 'khusus' di Rumah Makan ini harganya masih harga normal. Bersamaan dengan kami ternyata disitu juga sedang berkumpul salah satu komunitas Fotografi yang entah dari mana, berseragam biru dengan masing-masing menenteng kamera Canon DSLR, wow mantap jadilah saya makan dengan mata memandang kamera-kamera dan lensa-lensa mereka, jadi makin puas rasanya makan disini...hehehe.

Setelah puas dan perut terisi penuh, kami segera kembali ke Elf dengan sebelumnya membekali diri dengan beberapa botol air mineral karena teringat pesan kerabat kami sebelumnya. Tiba di pintu masuk, begitu kami turun dari mobil kami langsung disambut...maaf lebih tepatnya 'DISERBU' oleh berbagai penjaja yang menjajakan topi, souvenir, kaos dan berbagai macam barang lainnya. Berhubung tampang saya kata orang mirip orang bule (..hehe...I used to get that impression a lot...) jadilah semua penjaja mengacungkan dagangannya sambil berteriak-teriak..Sir..Sir...Please One Sir..Sir..Cheap, Cheap ! Wkwkwk...ntar tak tako ne nganggo boso Jowo bingung kowe... (maaf subtitle tidak tersedia :D ).

Dengan sopan kami tolak mereka, terutama pedagang topi yang dengan semangat juang yang tidak kenal lelah terus membuntuti kami. Tapi satu hal yang saya salut dengan mereka, begitu kami masuk melewati batas dengan tanda larangan pedagang tidak boleh masuk mereka 'TIDAK BERANI MASUK' ... mereka taat, ini satu hal yang langka kami temukan di Jakarta, terutama di tempat-tempat wisata, walaupun ada tanda tidak boleh berjualan, malah jualan di depan tanda itu. Mereka hanya teriak-teriak di depan untuk terus menarik perhatian kami agar membeli, tapi tidak lagi masuk membuntuti kami walaupun saat itu tidak ada sekuriti ataupun petugas yang mengawasi. Salut untuk mereka !

Berjalan beberapa saat menuju pintu masuk, panas mulai terasa...waduh kalau begini bisa pening-pening sampai di atas, akhirnya kami balik menuju pintu depan. Melihat kami berbalik pedagang topi yang tadinya sudah akan pergi menjauh tiba-tiba seperti mendapat energi baru, mereka langsung lari menyambut kami kembali, ayo .. ayo panas pak diatas, bu ayo...(kali ini mereka sadar bahwa kami turis lokal setelah mendengar kami bicara dengan bahasa Indonesia). Akhirnya setelah tawar menawar yang cukup sengit, jadilah kami membeli 3 buah topi wanita. Dengan senyum penuh kemenangan ibu penjaja topi itu menerima uang kami, selamat ya bu, semangat ibu akhirnya membuahkan hasil...

Setelah membeli tiket masuk, kami segera menuju pintu masuk candi Borobudur. Didepan pintu masuk itu tersedia guide bagi pengunjung yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai Candi Borobudur ini dan juga menunjukkan spot-spot foto yang bagus. Kami tidak menggunakan jasa guide itu, sehingga kami langsung masuk menuju jalan ke arah Candi Borobudur.

Disepanjang jalan itu terdengar bunyi gending Jawa (gamelan) yang disuarakan sayup-sayup melalui pengeras suara yang tersebar di berbagai tempat. Karena hari masih relatif pagi maka udara yang kami rasakan masih cukup sejuk karena sepanjang jalan menuju candi ditata dengan sangat apik, dan bersih. Suasana hati saya langsung menyukai tempat ini, walaupun sebenarnya sebelumnya cukup kuatir dengan saran kerabat saya yang mengatakan bahwa Borobudur itu membosankan. Belum sampai ke candinya saja saya sudah menyukai suasana tempat ini, apalagi ditambah suara gamelan yang terdengar sayup-sayup makin menambah suasana magis tempat ini. Pikiran saya langsung menerawang ke beberapa ribu tahun yang lalu, membayangkan seperti apa suasana pembangunan candi ini di zaman dahulu kala.

Lama berjalan candi belum juga terlihat, dan akhirnya....setelah kurang lebih 10 menit berjalan Candi Borobudur itupun menampakkan dirinya....WOOOWWW...saya langsung terkesima melihat kemegahan salah satu peninggalan sejarah dunia yang sempat menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia ini. TINGGI, LEBAR dan STRUKTUR bangunan candi ini begitu megah hampir setinggi hotel-hotel yang saya lihat di Jakarta. Tidak terbayang bagaimana orang-orang di zaman dahulu bisa membangun struktur bangunan yang seindah dan semegah ini, padahal saat itu belum ada Arsitek, belum ada semen, belum ada Crane, dan alat-alat berat yang biasa digunakan untuk membangun gedung-gedung bertingkat. Kata orang sih mereka pake ketan untuk menempelkan batu demi batunya...hahaha...ngga tahu kebenarannya sampai dimana. Dari jalan kami berusaha mencari spot yang bagus untuk berfoto mengabadikan kemegahan Candi Borobudur ini, tapi tidak bisa ! Karena tertutup oleh rimbunnya pepohonan di sekitar candi. Akhirnya kami duduk di kursi yang tersedia disamping jalan menunggu sebagian anggota keluarga yang masih tertinggal di belakang.

Saat kami duduk, kami melihat serombongan turis (dari Jepang mungkin kalau melihat perawakan dan cara mereka berbicara) dengan didampingi seorang guide berjalan menuju ke lapangan di samping candi. Wah pasti ada sesuatu tuh ... ngapain juga guide ngajak mereka kesana, padahal itu cuma lapangan kosong. Setelah mereka pergi, gantian saya yang ke lapangan itu...dan JRENG ! benar saja dari lapangan itu seluruh Candi Borobudur terlihat jelas ! Ini spot photo yang saya cari-cari dari tadi ! Langsung saya jeprat-jepret di sana. Ini salah satu hasilnya, yang tetap tidak bisa menggambarkan betapa megahnya Borobudur kecuali melihatnya secara langsung.


Setelah beberapa saat keluarga kami sudah berkumpul kembali, dan perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tangga demi tangga Candi Borobudur. Diujung tangga banyak sekali orang yang berfoto yang tentunya tidak kami lewatkan juga.


Di tengah pelataran candi , beberapa merasa tidak kuat melanjutkan sampai ke puncak stupa dan memilih berhenti dan beristirahat disitu. Dipelataran ini saya sempat mengabadikan kembali kemegahan Candi Borobudur ini.



Saya tentu saja dengan semangat juang yang meluap-luap tetap melanjutkan perjalanan ke atas. Sampai di atas stupa tertinggi. Dan dengan sedikit berpeluh, akhirnya sampai juga kami di stupa tertinggi.


Melihat dari stupa tertinggi ke sekeliling itu memang sesuatu banget...pemandangan gunung-gunung yang mengelilingi candi, memang cukup indah dan menyegarkan mata untuk dinikmati.

Kekhawatiran saya atas nasihat kerabat saya ternyata tidak terbukti, kami begitu menikmati suasana di Candi Borobudur ini. Langsung kami mencari spot-spot foto yang menarik dan kembali aksi jeprat-jepret kami lakukan. Banyak juga 'bule-bule' dengan kamera yang keren-keren berfoto-ria. Kami mencari spot yang sepi dan inilah hasilnya....






wkwkwk gaya banget...tapi seru n fun kok, yang penting hepi..(kaya iklan TV lagi...).

Ada satu hal yang katanya selalu menjadi ritual setiap datang ke Borobudur yaitu menjulurkan tangan untuk dapat memegang patung yang ada dalam stupa. Katanya kalau kepegang bisa dapat rejeki...wkwkwk. Tapi jangankan pegang, duduk di stupanya aja langsung kena tegor sekuriti yang banyak menjaga disekitar kawasan Candi Borobudur. Tapi mereka dengan bijaksana mengajarkan untuk foto cukup julurkan tangan di belakang stupa katanya, trus ambil angle fotonya dari depan nanti di fotonya akan kelihatan seperti lagi menjulurkan tangan memegang... kami coba ikuti dan ini hasilnya ....


Benar ya...jadi seperti memegang patung di dalam stupanya...thanks pak sekuriti untuk sarannya akhirnya foto wajib di Candi Borobudur tetap dapat kami peroleh.



Setelah puas menikmati Candi Borobudur hari sudah menjelang siang, kamipun turun. Saat turun dan menuju pintu keluar kami cukup dibingungkan dengan jalan keluar yang berliku-liku melewati lorong-lorong kios cindera mata. Mana pintu keluarnya nih kata kami, kok dari tadi muter-muter aja, setelah beberapa waktu kami berjalan akhirnya kami sampai kesebuah replika perahu yang katanya dibuat berdasarkan relik dari ukiran di Candi Borobudur. Menurut foto-foto yang ada di ruangan tersebut , perahu itu ternyata sudah pernah berlayar ke berbagai negara. Wah hebat nih membangun kembali perahu kuno dan berhasil membuatnya berlayar, salut !

Keluar dari Candi Borobudur, kami sebenarnya ingin mengunjungi Candi Prambanan tapi dengan pertimbangan hari sudah semakin siang dan panas, dan suasana Candi sudah puas kami dapatkan di Candi Borobudur akhirnya kami membatalkan pergi ke Candi Prambanan dan mengarahkan tujuan kami berikutnya ke Pantai Parang Tritis.




Friday, November 20, 2015

Journey to Jogja - Central Java Part 2

Hari berikutnya masih di kawasan Bandungan, Semarang akhirnya kami bersiap mengikuti seremoni pernikahan kerabat kami itu.

Pernikahan diadakan di Susan Spa & Resort yang berjarak tidak begitu jauh dari Hotel Natalia. Begitu menginjakan kaki di Susan Spa & Resort kami langsung disambut suasana yang terasa cukup mewah, kebetulan saat itu sedang ada gathering dari sebuah perusahaan di daerah Semarang yang diadakan di lapangan terbuka dengan suasana asri penuh pepohonan dan bunga yang indah dengan hamparan rumput tebal yang membuat mata terasa sejuk.

Begitu masuk ke kamar yang dihias menjadi kamar pengantin, hati saya langsung kegirangan. Wow banyak bangat spot photo yang menarik menurut saya. Langsung saya keluarkan kamera kesayangan saya, pasang lensa dan pasang gaya bak photographer profesional hahaha...... Akhirnya ada beberapa orang siap jadi 'model' percobaan dan ini beberapa hasil jeprat-jepret saya.






Puas jeprat-jepret di kamar pengantin, saya turun menuju tempat resepsi diadakan yaitu di La Kana Wedding Venue. Begitu sampai saya langsung tertegun.... Wooooowwww tempatnya kereeen bangeeet! Lebih banyak lagi spot photo yang bagus, akhirnya hasrat jeprat-jepret saya tak terbendung lagi, photo sana - photo sini seperti ga ada puas-puasnya, karena rasanya sayang melewatkan moment di tempat yang seindah ini.

Kembali 'model-model' dadakan saya jadikan korban untuk mengabadikan keindahan tempat ini dan berikut beberapa hasil 'luapan hasrat jeprat-jepret' saya ....

Ini Lokasi La Kana Wedding Venue Dari Depan Chapel


Retouch The Bride - Di dalam Chapel




The Wedding Couple




Para Model Dadakan Beraksi dan Beberapa Photo Candid

Saya sangat menikmati seremoni pernikahan di tempat ini, buat yang mempunyai hasrat foto tempat ini benar-benar memuaskan dijadikan pelampiasan. Selamat ya untuk The Wedding Couple dan thanks udah ngijinin saya jeprat-jepret ga keruan ... :D

Selesai acara kami langsung kembali ke Hotel Natalia. Udara Bandungan yang dingin semakin terasa dingin saat sore hari turun hujan, hmmhh untung acara pernikahan sudah selesai. Dan kami pun menutup hari kedua ini dengan kelelahan yang begitu terasa mendera tubuh. Tak lama malam datang kamipun langsung terlelap.






















Thursday, November 19, 2015

Journey to Jogja - Central Java Part 1

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna.....

Sepenggal lirik lagu berjudul Jogjakarta dari KLA Project tersebut terngiang menjelang keberangkatan kami ke Jogja. Ya kali ini saya dan keluarga ingin pergi ke kota Semarang untuk menghadiri pernikahan salah seorang kerabat disana dan setelahnya kami merencanakan untuk liburan ke Jogja. Kenapa dipilih Jogja karena udah segede gini tuh saya blom pernah injek yang namanya kota Jogja boro-boro Borobudur yang terkenal itu.

Itu sebabnya saya excited banget. Setelah semua persiapan selesai akhirnya hari yang dinantikan tiba. Kami sekeluarga menyewa sebuah mobil elf untuk menemani perjalanan kami menyusuri sepanjang perjalanan ini. Elf ini terasa cukup lega diisi oleh 7 orang dewasa dan 4 anak kecil + 1 driver, dan kami sewa dengan harga Rp.900.000/hari diluar bensin dan tol + makan driver dengan perkiraan jangka waktu sewa 3 hari. Harga ini terasa cukup reasonable karena perhitungan kami kalau menggunakan jasa kereta api untuk 11 orang sudah berapa? apalagi pesawat terbang, plus dengan elf ini kami tidak kesulitan untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Untuk mendapat jangka waktu sewa yang maksimal kami berangkat jam 12 malam ( hehe..ini usul Mr.Drivernya sendiri loh). Kami mulai menyusuri jalanan yang masih cukup ramai untuk jam 12 malam tapi sangat lancar, dan selang beberapa saat kami sudah tiba di jalan tol menuju Cikampek, dan akhirnya tiba di tol yang baru, kalau ga salah Cipali ya namanya...

Tol baru ini luruuuuuussss aja dan tidak ada lampu di kiri kanannya jadi kesannya gelaaaap, dan setelah beberapa saat Mr.Driver mulai kelihatan lelah. Untungnya ada tempat istirahat dan kamipun memutuskan berhenti sejenak. Turun dari mobil setelah berjam-jam kaki ga bisa lurus itu memang 'sesuatu' banget...hehehe.....di tempat istirahat ini ada pom bensin dan ada toko makanan snack juga. Duduk tengah malam begini meluruskan kaki ditemani bekal kue-kue dan teh panas yang kami bawa itu memang sesuatu kenikmatan yang ga bisa dikatakan lagi deh...saat dinginnya udara malam bercampur dengan hangatnya teh panas mengaliri tenggorokan memberikan sensasi yang luar biasa. Maknyussss kalo kata seorang pembawa acara kuliner di TV...hehe...

Setelah kami melanjutkan perjalanan, jam 06.30 WIB kami sampai di kota Pekalongan, tempat kelahiran orang tua saya (Ibu). Ibu saya langsung rame, ok kita cari makan di Rumah Makan Pojok aja... dan akhirnya kami nyasar...wkwkwk....setelah putar sana putar sini akhirnya ketemu juga tuh yang disebut Rumah Makan Pojok. Ternyata sekarang sudah berganti nama jadi Rumah Makan Simpang Lima, pantesan ga ketemu-ketemu.

Tempatnya bersih, makanannya ramesan pilih menu sendiri. Rasanya lumayan enak, apalagi sambelnya, maknyuss. Rasa lapar yang mendera terpuaskan, apalagi Enci yang punya tempat ramah banget, pelayanannya memuaskan, pagi itu aja udah cukup rame yang datang, recommended deh tempat ini.

Ternyata seluruh keluarga yang ada di Pekalongan sudah pergi lebih dahulu ke Semarang untuk mempersiapkan pernikahan kerabat kami itu. Ya udah kita juga langsung melanjutkan perjalanan menuju kota Semarang.

Di tengah perjalanan kami mulai kehabisan air minum, menyesal juga jadinya ga jadi bawa Aqua Galon yang sudah kami persiapkan karena pertimbangan berat dan sempit. Akhirnya kami berkali-kali mampir di Indomaret untuk beli Air Mineral botol. Setelah beberapa saat akhirnya kami mulai memasuki kota Semarang dan langsung diarahkan untuk menuju rumah salah seorang kerabat kami.

Beberapa saat kami beristirahat di sana, kamipun kemudian bersama-sama rombongan keluarga berangkat menuju tempat acara yaitu di daerah Bandungan, Semarang. Berbeda dengan kota Semarang yang panas, ternyata daerah Bandungan mempunyai hawa yang sejuk, suasananya mengingatkan saya akan kota Lembang, Bandung. Disana kami menginap di hotel Natalia, kamarnya berbentuk losmen-losmen dengan 3 buah kamar tidur, 2 buah kamar mandi, 1 meja makan, tersedia juga TV dan Pantry tapi tidak disediakan kompor :( sehingga kami cukup kesulitan untuk memasak air panas guna menyeduh kopi, teh maupun susu jahe yang kami bawa).

Malamnya kami pun mulai prosesi acara pernikahan kerabat kami tersebut yang diadakan di sebuah Rumah Makan yang menyediakan Sea Food dan Chinesse Food kalau ngga salah namanya Rumah Makan Nirwana.






Rasa makanannya sih standar menurut saya, tapi memang tempatnya cukup rame juga. Akhirnya hari itu kami tutup dengan kekenyangan wkwkwk....bersiap untuk menghadapi momen esok hari yang pasti menguras tenaga karena seharian akan mengikuti prosesi pernikahan kerabat kami itu. Tak lupa juga saya mempersiapkan kamera saya untuk latihan liputan wedding ceremonial esok hari. Karena kapan lagi ada tempat yang bisa buat latih skill photography saya selain di pernikahan saudara sendiri...:)

Postingan Pembuka :)

Selamat datang diblog sederhana ini !

Blog ini adalah blog yang memuat mengenai perjalanan hidup saya seorang manusia bernama Denny Christian di bumi ini.

Dalamnya akan memuat mengenai berbagai hal, mengenai perjalanan ke tempat-tempat wisata yang pernah saya kunjungin, mengenai berbagai makanan enak yang pernah saya makan, mengenai sharing ilmu yang saya bisa (wkwkwk....padahal ga bisa apa-apa), mungkin suatu saat juga mengenai curhatan kegalauan saya, pokoknya apa aja deh.

Thanks untuk yang udah berkunjung di blog sederhana ini. Silahkan tinggalin comment ya, kritikan, saran atau apa aja deh yang penting ga aneh-aneh. See you...!