Sunday, November 22, 2015

Journey To Jogja - Central Java Part 3

Hari ketiga ....
Dibuka dengan persiapan untuk berangkat meninggalkan Hotel Natalia menuju Jogja. Pagi-pagi kami sudah sibuk berkemas merapikan semua bawaan, dan jam 7 pagi kami sudah siap meninggalkan hotel Natalia.

Beberapa kerabat bertanya apakah kami akan kembali ke Jakarta atau ke tempat lain, kami bilang bahwa kami akan ke Jogja dengan tujuan utama Borobudur. Seorang kerabat bilang ngapain ke Borobudur, ga ada apa-apa, panasnya ampun-ampun dan bosen. Dan pesan mereka bawa air yang banyak :) . Tapi hal tersebut tidak menyurutkan niat kami untuk mengunjungi salah satu situs purba yang membuat Indonesia terkenal di manca negara ini. Dengan tekad dan semangat 45 kami tetap bersemangat untuk menuju Borobudur.

Setelah berkemas beberapa saat akhirnya Mr. Driver sudah ready dengan Elf kesayangannya, dan perjalanan kami pun berlanjut kembali.

Thanks untuk semua kerabat di Semarang, see you next time....

Perjalanan Semarang ke Jogja memakan waktu +/- 2 jam, dengan sepanjang perjalanan seringkali dihiasi oleh pepohonan yang cukup rimbun , mungkin pohon jati kali ya...
Akhirnya setelah perjalanan yang menurut kami cukup membosankan, kami tiba di situs Candi Borobudur. Tapi karena perut kami sudah meminta segera diisi, maka kami tidak langsung masuk tapi mencari tempat makan disekitar candi Borobudur.

Berhubung hari masih pagi belum banyak Rumah Makan yang buka, akhirnya kami singgah disebuah Rumah Makan Padang yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk Candi Borobudur, yaitu Rumah Makan Padang Murah Meriah. Nyam...mantap masakannya cocok dengan selera kami, pedas tapi masih ada manis-manisnya...(kaya iklan di TV... hehe) dan harganya pun masih cukup wajar tidak seperti kalau kita datang disebuah tempat wisata biasanya harganya adalah harga 'khusus' di Rumah Makan ini harganya masih harga normal. Bersamaan dengan kami ternyata disitu juga sedang berkumpul salah satu komunitas Fotografi yang entah dari mana, berseragam biru dengan masing-masing menenteng kamera Canon DSLR, wow mantap jadilah saya makan dengan mata memandang kamera-kamera dan lensa-lensa mereka, jadi makin puas rasanya makan disini...hehehe.

Setelah puas dan perut terisi penuh, kami segera kembali ke Elf dengan sebelumnya membekali diri dengan beberapa botol air mineral karena teringat pesan kerabat kami sebelumnya. Tiba di pintu masuk, begitu kami turun dari mobil kami langsung disambut...maaf lebih tepatnya 'DISERBU' oleh berbagai penjaja yang menjajakan topi, souvenir, kaos dan berbagai macam barang lainnya. Berhubung tampang saya kata orang mirip orang bule (..hehe...I used to get that impression a lot...) jadilah semua penjaja mengacungkan dagangannya sambil berteriak-teriak..Sir..Sir...Please One Sir..Sir..Cheap, Cheap ! Wkwkwk...ntar tak tako ne nganggo boso Jowo bingung kowe... (maaf subtitle tidak tersedia :D ).

Dengan sopan kami tolak mereka, terutama pedagang topi yang dengan semangat juang yang tidak kenal lelah terus membuntuti kami. Tapi satu hal yang saya salut dengan mereka, begitu kami masuk melewati batas dengan tanda larangan pedagang tidak boleh masuk mereka 'TIDAK BERANI MASUK' ... mereka taat, ini satu hal yang langka kami temukan di Jakarta, terutama di tempat-tempat wisata, walaupun ada tanda tidak boleh berjualan, malah jualan di depan tanda itu. Mereka hanya teriak-teriak di depan untuk terus menarik perhatian kami agar membeli, tapi tidak lagi masuk membuntuti kami walaupun saat itu tidak ada sekuriti ataupun petugas yang mengawasi. Salut untuk mereka !

Berjalan beberapa saat menuju pintu masuk, panas mulai terasa...waduh kalau begini bisa pening-pening sampai di atas, akhirnya kami balik menuju pintu depan. Melihat kami berbalik pedagang topi yang tadinya sudah akan pergi menjauh tiba-tiba seperti mendapat energi baru, mereka langsung lari menyambut kami kembali, ayo .. ayo panas pak diatas, bu ayo...(kali ini mereka sadar bahwa kami turis lokal setelah mendengar kami bicara dengan bahasa Indonesia). Akhirnya setelah tawar menawar yang cukup sengit, jadilah kami membeli 3 buah topi wanita. Dengan senyum penuh kemenangan ibu penjaja topi itu menerima uang kami, selamat ya bu, semangat ibu akhirnya membuahkan hasil...

Setelah membeli tiket masuk, kami segera menuju pintu masuk candi Borobudur. Didepan pintu masuk itu tersedia guide bagi pengunjung yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai Candi Borobudur ini dan juga menunjukkan spot-spot foto yang bagus. Kami tidak menggunakan jasa guide itu, sehingga kami langsung masuk menuju jalan ke arah Candi Borobudur.

Disepanjang jalan itu terdengar bunyi gending Jawa (gamelan) yang disuarakan sayup-sayup melalui pengeras suara yang tersebar di berbagai tempat. Karena hari masih relatif pagi maka udara yang kami rasakan masih cukup sejuk karena sepanjang jalan menuju candi ditata dengan sangat apik, dan bersih. Suasana hati saya langsung menyukai tempat ini, walaupun sebenarnya sebelumnya cukup kuatir dengan saran kerabat saya yang mengatakan bahwa Borobudur itu membosankan. Belum sampai ke candinya saja saya sudah menyukai suasana tempat ini, apalagi ditambah suara gamelan yang terdengar sayup-sayup makin menambah suasana magis tempat ini. Pikiran saya langsung menerawang ke beberapa ribu tahun yang lalu, membayangkan seperti apa suasana pembangunan candi ini di zaman dahulu kala.

Lama berjalan candi belum juga terlihat, dan akhirnya....setelah kurang lebih 10 menit berjalan Candi Borobudur itupun menampakkan dirinya....WOOOWWW...saya langsung terkesima melihat kemegahan salah satu peninggalan sejarah dunia yang sempat menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia ini. TINGGI, LEBAR dan STRUKTUR bangunan candi ini begitu megah hampir setinggi hotel-hotel yang saya lihat di Jakarta. Tidak terbayang bagaimana orang-orang di zaman dahulu bisa membangun struktur bangunan yang seindah dan semegah ini, padahal saat itu belum ada Arsitek, belum ada semen, belum ada Crane, dan alat-alat berat yang biasa digunakan untuk membangun gedung-gedung bertingkat. Kata orang sih mereka pake ketan untuk menempelkan batu demi batunya...hahaha...ngga tahu kebenarannya sampai dimana. Dari jalan kami berusaha mencari spot yang bagus untuk berfoto mengabadikan kemegahan Candi Borobudur ini, tapi tidak bisa ! Karena tertutup oleh rimbunnya pepohonan di sekitar candi. Akhirnya kami duduk di kursi yang tersedia disamping jalan menunggu sebagian anggota keluarga yang masih tertinggal di belakang.

Saat kami duduk, kami melihat serombongan turis (dari Jepang mungkin kalau melihat perawakan dan cara mereka berbicara) dengan didampingi seorang guide berjalan menuju ke lapangan di samping candi. Wah pasti ada sesuatu tuh ... ngapain juga guide ngajak mereka kesana, padahal itu cuma lapangan kosong. Setelah mereka pergi, gantian saya yang ke lapangan itu...dan JRENG ! benar saja dari lapangan itu seluruh Candi Borobudur terlihat jelas ! Ini spot photo yang saya cari-cari dari tadi ! Langsung saya jeprat-jepret di sana. Ini salah satu hasilnya, yang tetap tidak bisa menggambarkan betapa megahnya Borobudur kecuali melihatnya secara langsung.


Setelah beberapa saat keluarga kami sudah berkumpul kembali, dan perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tangga demi tangga Candi Borobudur. Diujung tangga banyak sekali orang yang berfoto yang tentunya tidak kami lewatkan juga.


Di tengah pelataran candi , beberapa merasa tidak kuat melanjutkan sampai ke puncak stupa dan memilih berhenti dan beristirahat disitu. Dipelataran ini saya sempat mengabadikan kembali kemegahan Candi Borobudur ini.



Saya tentu saja dengan semangat juang yang meluap-luap tetap melanjutkan perjalanan ke atas. Sampai di atas stupa tertinggi. Dan dengan sedikit berpeluh, akhirnya sampai juga kami di stupa tertinggi.


Melihat dari stupa tertinggi ke sekeliling itu memang sesuatu banget...pemandangan gunung-gunung yang mengelilingi candi, memang cukup indah dan menyegarkan mata untuk dinikmati.

Kekhawatiran saya atas nasihat kerabat saya ternyata tidak terbukti, kami begitu menikmati suasana di Candi Borobudur ini. Langsung kami mencari spot-spot foto yang menarik dan kembali aksi jeprat-jepret kami lakukan. Banyak juga 'bule-bule' dengan kamera yang keren-keren berfoto-ria. Kami mencari spot yang sepi dan inilah hasilnya....






wkwkwk gaya banget...tapi seru n fun kok, yang penting hepi..(kaya iklan TV lagi...).

Ada satu hal yang katanya selalu menjadi ritual setiap datang ke Borobudur yaitu menjulurkan tangan untuk dapat memegang patung yang ada dalam stupa. Katanya kalau kepegang bisa dapat rejeki...wkwkwk. Tapi jangankan pegang, duduk di stupanya aja langsung kena tegor sekuriti yang banyak menjaga disekitar kawasan Candi Borobudur. Tapi mereka dengan bijaksana mengajarkan untuk foto cukup julurkan tangan di belakang stupa katanya, trus ambil angle fotonya dari depan nanti di fotonya akan kelihatan seperti lagi menjulurkan tangan memegang... kami coba ikuti dan ini hasilnya ....


Benar ya...jadi seperti memegang patung di dalam stupanya...thanks pak sekuriti untuk sarannya akhirnya foto wajib di Candi Borobudur tetap dapat kami peroleh.



Setelah puas menikmati Candi Borobudur hari sudah menjelang siang, kamipun turun. Saat turun dan menuju pintu keluar kami cukup dibingungkan dengan jalan keluar yang berliku-liku melewati lorong-lorong kios cindera mata. Mana pintu keluarnya nih kata kami, kok dari tadi muter-muter aja, setelah beberapa waktu kami berjalan akhirnya kami sampai kesebuah replika perahu yang katanya dibuat berdasarkan relik dari ukiran di Candi Borobudur. Menurut foto-foto yang ada di ruangan tersebut , perahu itu ternyata sudah pernah berlayar ke berbagai negara. Wah hebat nih membangun kembali perahu kuno dan berhasil membuatnya berlayar, salut !

Keluar dari Candi Borobudur, kami sebenarnya ingin mengunjungi Candi Prambanan tapi dengan pertimbangan hari sudah semakin siang dan panas, dan suasana Candi sudah puas kami dapatkan di Candi Borobudur akhirnya kami membatalkan pergi ke Candi Prambanan dan mengarahkan tujuan kami berikutnya ke Pantai Parang Tritis.




No comments:

Post a Comment